Archive for July, 2007

Praktis atau Prestise???

Sunday, July 8th, 2007

"Pak Haji, saya ikut mobil Bapak ya?" pinta saya kepada pak Haji Alay
ketika kami, peserta talkshow TDA, bersiap ke ITC Mangga Dua. "Boleh
saja, tapi bisa muat nggak mobilnya?" jawab Pak Haji agak ragu. Saya
sedikit heran mengapa pak Haji tidak bisa menjawab pasti. Saat itu saya
memang sangat ingin dekat dengan Sang Narasumber dan menyerap ilmunya
selepas acara talkshow.

Keheranan saya akhirnya terjawab ketika
kami meninggalkan tempat acara. Ternyata Pak Haji Alay, seorang
pedagang besar Tanah Abang, cuma nunut mobilnya pak Joe
(pak Joseph Hartanto). Mobil pak Joe akhirnya sesak karena saya
memaksakan diri ikut di dalamnya padahal mobil lain banyak yang masih
kosong.

Sepanjang perjalanan memang saya banyak belajar dari
Beliau. Bagaimana cara memilih produk yang bagus, di mana mencarinya,
kisaran harganya, cara menjualnya, dan sebagainya. Meski akhirnya saya
"memilih" jalan sendiri ilmu dari Beliau sangat inspiratif.

Di
perjalanan itu juga saya mendapatkan jawaban terhadap hal yang
mengherankan saya. Mengapa Pak Haji memilih menumpang pak Joe, dan
bukan memakai mobil sendiri. "Saya ingin yang praktis saja. Saya
kemana-mana lebih senang pakai taksi. Kalau macet lebih senang pakai
ojek," Kami semua kaget dengan jawaban pak Haji. "Coba kalau pakai
mobil sendiri, kan tegang kita. Jangan-jangan disrempet bajaj.
Pakai taksi bisa membantu pengemudinya," Pak Haji melanjutkan
jawabannya. Pak Haji, pemilik ratusan kios di berbagai pusat
perbelanjaan ini, di setiap tindakannya selalu memikirkan membantu
orang lain.

Saya tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah saya
lakukan. Saat itu saya membeli televisi yang punya
fitur sangat banyak. Ketika televisi lain masih biasa-biasa saja saya
pilih bilingual, subwoofer, 3D stereo. Untuk saat itu fitur tsb masih
langka. Ternyata apa yang terjadi? Hampir semua fitur tidak bisa
optimal. Bilingual-nya mirip dengan HP 3G sekarang. Ada fasilitasnya
tetapi jaringannya tidak mendukung. Ya tetap saja tidak bisa dipakai.
Akhirnya saya harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak bisa
dinikmati. Mubazir kan…

Pada suatu ketika saya dan seorang
teman sedang menunggu di lobi sebuah gedung perkantoran di kawasan
elit. Kami melihat banyak sekali para profesional memakai peralatan
pendukung mutakhir. Ada satu orang yang membawa sampai tiga hp. "Orang
kok nggak praktis, bawa hp sampai tiga," gumam saya. "Ya wajar kamu
ngomong seperti itu. Hpmu kan cuma satu," jawab teman saya. Benar juga,
pikir saya. "Yang bawa banyak hp dan nggak praktis biasanya kan cuma
karyawan. Mana ada bos repot gitu," saya tidak mau kalah. "Kalau kamu
beda, hpmu cuma satu karena tidak kuat beli lagi," sambar teman saya.
Jangan-jangan dia benar, kata saya dalam hati.

Lama kami terdiam
lagi. "Kamu tahu nggak pak Budi Rachmat (salah satu founder TDA). Dia
dulu kan profesional Unilever. Kemana-mana bawa mobil plus baju yg
selalu necis dan wangi. Sekarang kemana-mana cukup pakai motor padahal
duitnya jauuuhhh lebih banyak dibanding dulu. Semakin kaya semakin praktis," Saya merasa di atas angin.

"Kalau
kamu beda. Kamu praktis karena memang miskin," teman saya menjawab
tanpa ekspresi. Saya kembali diam. "Oke, bagaimana dengan Rusdi Kirana
(pemilik Lion Air). Kalau berjalan bareng dengan manajer humasnya, Pak Rusdi lebih mirip sebagai sopirnya karena yang punya potongan orang
kaya adalah manajer humasnya," Saya kembali membuka diskusi. Kali ini
teman saya yang diam. Mungkin tidak bisa membalas saya. Atau
jangan-jangan lebih parah lagi, dia sudah males menjawab karena ucapan saya tidak bermutu.

"Eh
tahu nggak, semakin orang itu kaya dia makin praktis lho. Tapi kalau
masih miskin malah lebih suka tidak praktis. Mereka lebih senang tidak
praktis karena biar dikira sebagai orang kaya. Kalau sudah kaya mereka
tidak butuh pengakuan lagi. Jadi lebih memilih praktis," Saya mencoba
kembali membuka pembicaraan. Ternyata teman saya lebih memilih tertidur
di sofa wisma GKBI…