Archive for October, 2006

Doa Kecil Buatmu

Friday, October 13th, 2006

Pagi ketika kutulis surat ini,
matahari cerah sekali, langit bersih dan aku merasa pikiranku cukup jernih
untuk melakukan semua hal yang aku rencanakan hari ini. Sudah agak lama kita
tidak bertegur sapa, lewat apapun, hingga akhirnya aku tulis surat anonim
buatmu ke ruang publik seperti ini, berharap suatu saat energinya akan pernah
menyentuhmu entah dengan cara apa.

Kadang semua ini terasa seperti
siklus yang berulang, ketika kita merasa pada suatu saat kita sampai lagi pada
situasi yang sama. Membicarakan hal ini dengan seorang teman dekat, kami lalu
jadi tergelak, ternyata dari semua skenario yang pernah aku bayangkan, pembuat
skenario agung selalu punya skenario yang lebih bagus. Bahkan aku rasa, Dia
punya sense of humor yang jauh lebih menarik dari yang kita bayangkan. Bahan
candanya adalah hidup kita sendiri, sering kita tidak cukup fair dengan banyak
hal, dan Dia masih saja berlaku adil dan bijak dengan caraNya sendiri.

Ada senandung Dionne warwick di
belakang kepalaku, "I say a little prayer for you". Sebuah lagu
sederhana dengan lirik memikat. Semuanya serba sederhana, hanya doa-doa kecil
buat kekasih kita yang kita ucapkan sepanjang waktu. Doa adalah harapan, adalah
medan energi yang lingkarannya sering melampaui apa yang di dunia nyata sering
kita abaikan. Jadi kadang kita pahami seperti sesuatu yang ada di seberang
kenyataan. Padahal mungkin tidak sepenuhnya begitu. Beberapa kali aku
membuktikan, kerja metafisik kita itu jika dilakukan dengan penuh kesungguhan
dan ketulusan seperti semestinya, hasilnya benar-benar nyata. Ya, senyata
pikiran dan harapan itu sendiri, dan terjadi pada saat kita justru berlepas
bebas dengan hasil yang kita bayangkan.

Padamu sayang, kenyataan itu serasa
bertingkat. Dibukakan pelahan, satu demi satu, semua yang pernah berlaku atasmu
dan membuat aku sering tidak mengerti. Setahap demi setahap aku diajarNya untuk
memahaminya. Tapi masih juga aku terlalu tolol untuk itu semua, hingga
kulakukan apa yang tak semestinya aku lakukan terburu-buru. Begitulah kamu menjauh
dariku ketika keraguanku mulai datang. Aku ingat ketika keyakinanku makin
tebal, makin dekat pula kamu denganku, dan membuka misterimu satu demi satu.
Beberapa teman sudah bilang, bahwa aku nekat. Ah tapi apalah arti itu semua?
Aku cuma merasa ada yang istimewa di antara kita, ada senyummu yang selalu aku
bayangkan merekah seperti senja merah itu. Then seize the day!

Kemarahan selalu bisa jadi sumber
energi tapi aku selalu terlambat menyadari bahwa itu juga bisa begitu mudah
menghancurkan semuanya. Tak ubahnya adalah pengaruh buruk yang menajamkan pisau
yang menggarit luka dan ketakutanmu. Sungguh aku sesalkan semuanya, ketika
akhirnya aku sampai disini. Terlempar ke jurang rindu yang merentang dari
kemarahanku dan kebencianmu tentang hal itu.

Sungguh, tiap saat setelah aku sadari
semuanya, aku kirimkan doa kecil yang kuselipkan tiap saat, sambil kukenang
semua yang indah yang bisa kukenang dari kehadiranmu. Aku mencoba menghubungkan
energi yang kuperoleh dari kehadiranmu untuk mengusir rasa gelisah dan marah
yang kupikirkan di lingkaranmu.

I run for the bus dear

while riding it I think of us dear

Teruntuk Kekasihku

My Litle Angel’s