Kata syaithon / setan berasal dari bahasa Arab yang artinya keterlaluan / berlebih-lebihan, jadi kata syaithon itu sebenarnya adalah kata sifat ( Evil ) bukanlah mahluk yang selama ini banyak orang salah memahaminya. Nah, jadi setiap Manusia atau Jin yang berprilaku / berkelakuan keterlaluan / berlebih-lebihan itu dinamakan syaithon / setan.
Yang menjadi fokus dari pembahasan kita kali ini adalah seputar acara-acara televisi yang sering memunculkan sosok Jin baik melalui fenomena penampakan maupun melalui rekayasa yang sering memunculkan sosok jin dalam wujud hantu, karena akhir-akhir ini Hantu cs. semakin tenar, bahkan keberadaannya sudah semakin diakui oleh masyarakat peminat acara-acara berbau dunia gaib, macam Dunia Lain, Gentayangan, Dua Alam, dll. Sebagai seorang muslim, kita memang harus percaya terhadap adanya dunia gaib ini, sesuai dengan firman Allah Swt dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 2. Tetapi acara-acara televisi yang membahas dunia gaib itu secara tidak langsung telah membantu misi syaithon dalam tugasnya menakut-nakuti manusia, agar manusia lebih takut kepada bangsa mereka ( Jin ) daripada kepada Sang Khalik. Padahal bangsa Jin mempunyai kedudukan yang lebih rendah dibandingkan dengan manusia, tetapi justru acara-acara tersebut cenderung mengajarkan kepada pemirsanya bahwa bangsa Jin itu ditakuti bahkan tak sedikit yang secara tidak langsung memposisikan manusia di bawah bangsa mereka, misalnya seperti penyediaan sesajen, tumbal, dll. Padahal Firman Allah Swt telah menjelaskannya :
”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS.Al-Jin -6)
Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah dengan semakin pesatnya tekhnologi, seharusnya orang-orang meninggalkan hal-hal yang berbau takhayul? Lagipula apa benar penampakan yang tertangkap kamera itu adalah realitas yang dapat dibuktikan secara ilmiah? Atau hanya trik kamera yang dibuat untuk menakut-nakuti pemirsa dan untuk menaikan rating acara tersebut? Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim agar tidak terbawa kedalam kemusyrikan sebagai dampak dari acara tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tadi tentunya pernah terlintas dalam benak kita dan untuk menjawabnya kita perlu memahami dulu beberapa firman Allah Swt berikut :
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’ :14)
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui PERKARA yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml : 65 )
"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu." (QS. Al-Jin: 26).
Dari firman Allah diatas, dapat kita golongkan 2 ghaib, yaitu :
1. Perkara Ghaib ( Hanya diketahui Allah SWT Yang Maha Mengetahui ),
misalnya : arasy, surga, neraka, kiamat, alam barzah, alam mahsyar,
masa depan, kematian, rizqi, jodoh, dll.
2. Hal Ghaib ( Tidak dapat dilihat [kecuali melalui ilmunya] tetapi dampaknya nyata
dan dapat dirasakan ) Misalnya: jin, udara, frekuensi, mikroba, listrik, radiasi, dll.
Dalam beberapa seminar, artikel maupun dalam kegiatan aktifitas sehari-hari, penulis banyak menemukan perdebatan mengenai dapat atau tidak dapatnya jin dilihat oleh manusia. Sebagian orang berpendapat bahwa Jin tidak dapat dilihat / disaksikan oleh manusia, karena jin termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Swt, padahal apabila kita kembali menggali firman Allah Swt diatas, jin termasuk hal ghaib dan bukanlah termasuk perkara ghaib, karena apabila jin termasuk perkara ghaib, kenapa mereka tidak mengetahui kematian Nabi Sulaeman As.
Melalui teknologi zaman sekarang, Jin bisa dideteksi keberadaannya, misalnya melalui Trifield Natural EM meter, EMF meter, dan Infra Red Scanner. Bahkan penampakannya pun sudah bisa ditangkap oleh kamera diatas resolusi 3 Mega Pixel. Bahkan tak jarang kamera dibawah resolusi 3 megapixel pun, apabila frekwensi cahaya dalam keadaan yang memungkinkan, penampakan pun dapat tertangkap.
Dalam proses penampakannya, Jin memerlukan energi yang besar untuk menampakan dirinya. Ia bisa mendapatkan energi itu dari endapan energi negatif di tempat-tempat sepi, karena itu tempat sepi selalu identik dengan tempat angker, karena disanalah tempat favorit bangsa mereka. Juga yang perlu diketahui, bahwa apabila manusia mempunyai perasaan takut, maka secara kimiawi tubuhnya akan mengeluarkan energi yang besar, nah energi inilah yang dimanfaatkan si Jin untuk diserap sehingga ia bisa menampakan diri di hadapan kita. Maka dari itu buanglah rasa takut kita bila berada di tempat sepi atau gelap apabila perasaan itu mulai muncul, selalu ingatlah kepada Allah Swt, berdzikir dengan menyebut nama-Nya.
Niscaya dengan percaya bahwa Allah Swt dekat dan melindungi kita, maka akan timbul keberanian pada diri kita. Karena apabila manusia dalam posisi berani / waspada, maka secara kimiawi tubuhnya akan membutuhkan dan menyerap banyak energi, sehingga tidak memberikan ruang / jatah energi kepada si Jin untuk menampakan diri atau untuk mengganggu kita. Maka dari itu buanglah rasa ketakutan itu, karena sebenarnya ketakutan muncul dari pikiran kita sendiri. Justru rasa takut yang harus kita tumbuhkan adalah rasa takut kita kepada Allah Swt, karena rasa takut kepada Zat Maha Perkasa ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Allah Swt, mensejajarkan takut kepada-Nya dengan Jihad di jalan Allah Swt. Takut pada Allah akan picu keberanian kita dalam membela kebenaran. Firman Allah Swt :
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti dengan kawan-kawannya , karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS.Ali-Imran:175)
Dari beberapa penjelasan dan penemuan teknologi diatas, telah jelaslah bahwa bangsa Jin yang fenomenanya maupun tiruannya sering membintangi acara-acara televesi memanglah dapat ditangkap oleh kamera. Walaupun tak sedikit dari acara televisi juga yang merekayasa penampakan itu demi rating acaranya. Pada beberapa orang yang dianugrahi kelebihan khusus oleh Allah Swt, ia dapat melihat atau merasakan keberadaan mahluk-mahluk ghaib melalui indera keenamnya ( six sense ). Karena panca indera tidak akan mampu melihat mahluk-mahluk ghaib tersebut, terkecuali melalui perantara sihir ( bantuan jin itu sendiri ) maupun melalui peralatan teknologi. Hal ini sama halnya dengan Radiasi Isotop/Radio aktif tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, melainkan dengan kertas foto negatif atau plat yang mengandung zat kimia tertentu. Radiasi tersebut tidak dapat ‘dilihat’ namun akibatnya nyata dan ‘dapat dirasakan’. Ini hanyalah salah satu bukti dari keterbatasan panca indera kita.
Sama seperti anjing yang penciumannya ratusan kali lipat lebih tajam dari hidung kita, atau kelelawar yang pendengarannya beberapa kali lipat lebih baik dari manusia sehingga gelombang sonar pun dapat dideteksi oleh telinga kelelawar.
Sepengetahuan saya yang terbatas, di dalam Al Qur’an tidak disebutkan mengenai ketajaman indera pendengaran kelelawar (mungkin saya salah) ataupun cara menyetek pohon tomat dengan baik. Namun Al Qur’an selalu memerintahkan kita menggunakan akal (ta’qilun) dan merenungkan (tafakkur) mengenai fenomena alam ini, termasuk diri kita sendiri. Tetapi ada juga orang yang menentang pendapat bahwa jin tidak bisa berinteraksi bahkan dilihat atau dirasakan oleh manusia. Satu2nya cara adalah kembali membuka dalil2 yg ada dengan disertai tafakur dan pencarian fakta atau pembuktian. Kalau tetap bersikukuh berdasarkan dalil2 saja dan dibaca secara tersurat saja ( yg tersirat tidak diusahakan utk dipikirkan ) serta tanpa pembuktian real, niscaya semua tidak akan selesailah, hal ini merupakan "Kemunduran umat muslim" selama ini. Niscaya umat muslim akan selalu tertinggal dari segi apapun ( ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, sosial dan budaya ) Kita akan jadi pecundang terus oleh dunia barat dan golongan zionist.
Dulu pun dunia barat ( Eropa ) sempat tidak maju juga karena pengukungan pendapat secara amat keras oleh dewan2 gereja dan pendeta2 di Eropa. Ilmu apapun dianggap sihir dan mendustakan agama dan melawan gereja tapi berhubung muncul gerakan2 "Renaissance and Humanisme", maka Eropa menjadi maju pesat sampai sekarang.
Sikap kita sebagai seorang muslim adalah menjadikan hal ini sebagai hikmah, bahwasanya kita tinggal di dunia tidak sendiri, tetapi ada alam lain yang tidak tampak oleh panca indera kita, yaitu alam Jin. Jangan sampai kita diperbudak oleh bangsa mereka tetapi jangan pula kita memperbudak bangsa mereka karena bangsa kita dan bangsa mereka diciptakan oleh Allah SWT, tak lain dan tak bukan adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Wallahualam Bishawab.
Script By: johanarifin@programmer.net
* Dari berbagai sumber *