Praktis atau Prestise???

July 8th, 2007 by johanarifin

"Pak Haji, saya ikut mobil Bapak ya?" pinta saya kepada pak Haji Alay
ketika kami, peserta talkshow TDA, bersiap ke ITC Mangga Dua. "Boleh
saja, tapi bisa muat nggak mobilnya?" jawab Pak Haji agak ragu. Saya
sedikit heran mengapa pak Haji tidak bisa menjawab pasti. Saat itu saya
memang sangat ingin dekat dengan Sang Narasumber dan menyerap ilmunya
selepas acara talkshow.

Keheranan saya akhirnya terjawab ketika
kami meninggalkan tempat acara. Ternyata Pak Haji Alay, seorang
pedagang besar Tanah Abang, cuma nunut mobilnya pak Joe
(pak Joseph Hartanto). Mobil pak Joe akhirnya sesak karena saya
memaksakan diri ikut di dalamnya padahal mobil lain banyak yang masih
kosong.

Sepanjang perjalanan memang saya banyak belajar dari
Beliau. Bagaimana cara memilih produk yang bagus, di mana mencarinya,
kisaran harganya, cara menjualnya, dan sebagainya. Meski akhirnya saya
"memilih" jalan sendiri ilmu dari Beliau sangat inspiratif.

Di
perjalanan itu juga saya mendapatkan jawaban terhadap hal yang
mengherankan saya. Mengapa Pak Haji memilih menumpang pak Joe, dan
bukan memakai mobil sendiri. "Saya ingin yang praktis saja. Saya
kemana-mana lebih senang pakai taksi. Kalau macet lebih senang pakai
ojek," Kami semua kaget dengan jawaban pak Haji. "Coba kalau pakai
mobil sendiri, kan tegang kita. Jangan-jangan disrempet bajaj.
Pakai taksi bisa membantu pengemudinya," Pak Haji melanjutkan
jawabannya. Pak Haji, pemilik ratusan kios di berbagai pusat
perbelanjaan ini, di setiap tindakannya selalu memikirkan membantu
orang lain.

Saya tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah saya
lakukan. Saat itu saya membeli televisi yang punya
fitur sangat banyak. Ketika televisi lain masih biasa-biasa saja saya
pilih bilingual, subwoofer, 3D stereo. Untuk saat itu fitur tsb masih
langka. Ternyata apa yang terjadi? Hampir semua fitur tidak bisa
optimal. Bilingual-nya mirip dengan HP 3G sekarang. Ada fasilitasnya
tetapi jaringannya tidak mendukung. Ya tetap saja tidak bisa dipakai.
Akhirnya saya harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak bisa
dinikmati. Mubazir kan…

Pada suatu ketika saya dan seorang
teman sedang menunggu di lobi sebuah gedung perkantoran di kawasan
elit. Kami melihat banyak sekali para profesional memakai peralatan
pendukung mutakhir. Ada satu orang yang membawa sampai tiga hp. "Orang
kok nggak praktis, bawa hp sampai tiga," gumam saya. "Ya wajar kamu
ngomong seperti itu. Hpmu kan cuma satu," jawab teman saya. Benar juga,
pikir saya. "Yang bawa banyak hp dan nggak praktis biasanya kan cuma
karyawan. Mana ada bos repot gitu," saya tidak mau kalah. "Kalau kamu
beda, hpmu cuma satu karena tidak kuat beli lagi," sambar teman saya.
Jangan-jangan dia benar, kata saya dalam hati.

Lama kami terdiam
lagi. "Kamu tahu nggak pak Budi Rachmat (salah satu founder TDA). Dia
dulu kan profesional Unilever. Kemana-mana bawa mobil plus baju yg
selalu necis dan wangi. Sekarang kemana-mana cukup pakai motor padahal
duitnya jauuuhhh lebih banyak dibanding dulu. Semakin kaya semakin praktis," Saya merasa di atas angin.

"Kalau
kamu beda. Kamu praktis karena memang miskin," teman saya menjawab
tanpa ekspresi. Saya kembali diam. "Oke, bagaimana dengan Rusdi Kirana
(pemilik Lion Air). Kalau berjalan bareng dengan manajer humasnya, Pak Rusdi lebih mirip sebagai sopirnya karena yang punya potongan orang
kaya adalah manajer humasnya," Saya kembali membuka diskusi. Kali ini
teman saya yang diam. Mungkin tidak bisa membalas saya. Atau
jangan-jangan lebih parah lagi, dia sudah males menjawab karena ucapan saya tidak bermutu.

"Eh
tahu nggak, semakin orang itu kaya dia makin praktis lho. Tapi kalau
masih miskin malah lebih suka tidak praktis. Mereka lebih senang tidak
praktis karena biar dikira sebagai orang kaya. Kalau sudah kaya mereka
tidak butuh pengakuan lagi. Jadi lebih memilih praktis," Saya mencoba
kembali membuka pembicaraan. Ternyata teman saya lebih memilih tertidur
di sofa wisma GKBI…

POLIGAMI? (Percakapan Dengan Aa, melalui Messenger)

December 13th, 2006 by johanarifin

Silakan dicermati .

Aa_online :Assalamualaikum ..
f_rachmanto : Waalaikum salaam ?
f_rachmanto : Aa .. lama gak online
nih, ? kemana aja ?
Aa_online : Ah ? Aa mah disini aja,
Kang Oji kumaha damang?
f_rachmanto : Baik A, kumaha bulan
madu?
Aa_online : Ah, eta deui, eta deui ?
hehehe ?
f_rachmanto : Sori A, habis kaget nih
Aa nikah lagi
Aa_online : Aduh kenapa atuh mesti
kaget segala. Kan berpoligami teh
diijinkan Allah.
f_rachmanto : Diijinkan lho A, bukan
diwajibkan.
Aa_online : Betul. Hukumnya sunnah.
f_rachmanto : Kenapa sih A, nikah lagi?
Aa_online : Aduuh ini lagi
pertanyaanya , Kumaha nya ngajawabnya?
f_rachmanto : Apa ada yg kurang dari
Teteh?
Aa_online : Wah, insya Allah bukan
karena itu, Teteh itu wanita yang
sangat luar biasa.
f_rachmanto : Jadi kenapa?
Aa_online : Begini, pernikahan Aa yang
kedua ini latar belakangnya ya sama
saja dengan alasan orang lain menikah.
Kang Oji dulu kenapa menikah?
f_rachmanto : Mmmm ? Karena saya dan
istri saling cinta, dan pengen hidup
bareng membangun keluarga yang sakinah?
Aa_online : Begitu juga Aa dengan
pernikahan kedua ini.
f_rachmanto : Tapi Aa kan bisa
menyakiti hati Teteh. Apalagi anak-
anak Aa. Anak mana sih yang rela
Ayahnya nikah lagi.
Aa_online : Yah, saya juga katakan ini
bukan keputusan mudah. Saya mohon maaf
sama Teteh dan anak-anak saya, jika
keputusan ini tidak enak buat mereka.
Namun saya juga berharap ini bisa jadi
hikmah bagi mereka untuk melatih
keikhlasan mereka. Dan alhamdulillah
Teteh dan anak-anak dapat menerima ?
f_rachmanto : Maaf nih A, kok tega
menyakiti hati orang yang kita cintai?
Aa_online : Sudah tentu saya tidak
tega, tapi ?
f_rachmanto : Kalau tidak tega kenapa
tetap dilaksanakan?
Aa_online : Begini, karena ada tujuan
yang menurut Aa insya Allah baik.
Dan Aa yakin keluarga Aa akan dapat
ikhlas menerima keputusan Aa.
f_rachmanto : Maaf A, apakah ini untuk
kepuasan seks?
Aa_online : Semua pernikahan bukan nya
selalu ada aspek seks? Namun seks
tentu bukan satu2 nya aspek dan bukan
yang paling utama.
Aa_online : Salah satu hikmah
pernikahan adalah untuk mencegah
manusia dari kerusakan akibat perilaku
seks seperti binatang. Kang Oji bisa
lihat perilaku saudara-saudara kita
dewasa ini yang lama-lama menganggap
seks diluar nikah bukan hal terlarang.
Ini harus diluruskan ?
f_rachmanto : Dengan poligami?
f_rachmanto : Bukan kah nanti jadi nya
poligami iya, zina jalan terus ?
Aa_online : Yah kalo masalah zina mah,
kalo moral orangnya sudah mengizinkan
zina ya bagaimana ya? Tapi ada
pandangan juga nih. Barangkali
masyarakat kita sekarang juga yang
mengkondisikan perzinahan.
f_rachmanto : Maksud Aa?
Aa_online : Yah, masyarakat sekarang
kan semakin permisif terhadap hubungan
laki-laki dan perempuan, semakin
menganggap lembaga keluarga tidak
penting, menganggap lembaga pernikahan
tidak penting. Sementara namanya
dorongan hubungan seks adalah sesuatu
yang alamiah dan pasti terjadi. Paham
maksud Aa?
f_rachmanto : Rada ngantuk sih A, tapi
paham lah.
f_rachmanto : Ya jujur aja sih, kalau
sekarang kita denger sepasang laki-
laki perempuan tinggal bersama tanpa
menikah dianggap semakin biasa.
Aa_online : Padahal dulu enggak
f_rachmanto : Ya , dulu nya itu tabu.
Aa_online : Demikian pula poligami
f_rachmanto : Halahh ? belok nya jago
bener
Aa_online : Hehehe bukan begitu. Ini
kenyataan. Coba kita perhatikan dalam
sejarah. Orang jaman dulu
mempraktekkan poligami. Bahkan kalau
tingkatannya raja atau bangsawan,
istrinya bisa ratusan ?
f_rachmanto : Dulu dianggap biasa,
sekarang dianggap tabu.
Aa_online : Betul
f_rachmanto : Itukan dulu Aa
Aa_online : Betul, maksud Aa cuma
ingin kasih gambaran bahwa pandangan
masyarakat bisa berubah.
f_rachmanto : Tapi Aa, kenapa kita
selalu melupakan konteks “adil” dalam
ketentuan berpoligami.
f_rachmanto : Maksud saya, kalau istri
pertama sampai merasa tidak ridha saja
kan sudah tidak adil. Saya pernah baca
sih, ada beberapa istri yang dari awal
ikhlas suami nya menikah lagi, bahkan
membantu mencarikan istri baru. Tapi
kan angkanya sangat sedikit. Artinya,
poligami baru bisa dilaksanakan dalam
kondisi yang hampir mustahil.
Aa_online : Tapi mungkin
f_rachmanto : Ya ?
Aa_online : Apa tidak mungkin ada
istri yang ikhlas suaminya menikah
lagi karena sesuatu hal, katakan yang
sifatnya darurat?
f_rachmanto : Ya mungkin saja, tapi
kecil ?
Aa_online : Tetap saja mungkin.
Aa_online : Dan hukum agama
dimaksudkan untuk memberi jalan keluar
bagi hal yang mungkin tadi.
f_rachmanto : OK Aa, saya tidak pernah
mempertanyakan legalitas berpoligami.
Tertulis dalam teks dengan sangat
jelas itu diperbolehkan.
f_rachmanto : Tapi bukankah sesuatu
yang boleh belum tentu baik.
Aa_online : Misalnya ?
f_rachmanto : Misalnya saya membeli
mobil mewah sementara saudara-saudara
saya ada yang putus sekolah karena
kurang biaya, terjepit hutang, atau
bahkan kelaparan …
f_rachmanto : Beli mobil pake uang
saya sendiri, halal, ya boleh dong.
Tapi tidak baik saya lakukan karena
akan menyakiti hati saudara-saudara
saya ?
Aa_online : Membeli mobil tadi “tidak
baik” ukuran nya apa? Dibandingkan
dengan apa?
f_rachmanto : Dibanding dengan
misalnya menyedekahkan uang saya tadi ?
Aa_online : Setuju. Nah, kalau
dibanding dengan menggunakan uang tadi
untuk berjudi di kasino?
f_rachmanto : Ya lebih baik beli mobil.
Aa_online : Sangat relatif ya?
f_rachmanto : Hmm ? ya.
Aa_online : Jadi itu semua akan sangat
subyektif, dan sangat tergantung
konteks. Tidak bisa dihakimi secara
hitam-putih begitu saja. Dari satu
kasus dengan kasus lain akan berbeda.

Aa_online : Poligami itu seperti pintu
darurat di sebuah pesawat. Boleh
digunakan, kalau memang keadaan
mengharuskan. Tapi juga jangan
digunakan kalau pesawatnya baik-baik
saja. Jadi harus tahu ilmunya.
f_rachmanto : Hehehe ? Memang
pernikahan Aa sama Teteh tidak baik2
saja ya ?
Aa_online : Tuh kan ? Kalo ini mah
jadi ngegosip ?
f_rachmanto : Iya sori Aa, becanda.
Thanks penjelasannya.
f_rachmanto : BTW ini lagi online di
Daarut Tauhid ya A?
Aa_online : Lha koq Daarut Tauhid?
f_rachmanto : Lho? Ini Aa Gym kan ?
Aa_online : Aduh Ji! Ini mah saya
atuh, Aa Dadang, temen kerja kamu dulu!
f_rachmanto : Astaghfirullah? Kirain
dari tadi teh Aa Gym ?

Serius banget bacanya !!!

Doa Kecil Buatmu

October 13th, 2006 by johanarifin

Pagi ketika kutulis surat ini,
matahari cerah sekali, langit bersih dan aku merasa pikiranku cukup jernih
untuk melakukan semua hal yang aku rencanakan hari ini. Sudah agak lama kita
tidak bertegur sapa, lewat apapun, hingga akhirnya aku tulis surat anonim
buatmu ke ruang publik seperti ini, berharap suatu saat energinya akan pernah
menyentuhmu entah dengan cara apa.

Kadang semua ini terasa seperti
siklus yang berulang, ketika kita merasa pada suatu saat kita sampai lagi pada
situasi yang sama. Membicarakan hal ini dengan seorang teman dekat, kami lalu
jadi tergelak, ternyata dari semua skenario yang pernah aku bayangkan, pembuat
skenario agung selalu punya skenario yang lebih bagus. Bahkan aku rasa, Dia
punya sense of humor yang jauh lebih menarik dari yang kita bayangkan. Bahan
candanya adalah hidup kita sendiri, sering kita tidak cukup fair dengan banyak
hal, dan Dia masih saja berlaku adil dan bijak dengan caraNya sendiri.

Ada senandung Dionne warwick di
belakang kepalaku, "I say a little prayer for you". Sebuah lagu
sederhana dengan lirik memikat. Semuanya serba sederhana, hanya doa-doa kecil
buat kekasih kita yang kita ucapkan sepanjang waktu. Doa adalah harapan, adalah
medan energi yang lingkarannya sering melampaui apa yang di dunia nyata sering
kita abaikan. Jadi kadang kita pahami seperti sesuatu yang ada di seberang
kenyataan. Padahal mungkin tidak sepenuhnya begitu. Beberapa kali aku
membuktikan, kerja metafisik kita itu jika dilakukan dengan penuh kesungguhan
dan ketulusan seperti semestinya, hasilnya benar-benar nyata. Ya, senyata
pikiran dan harapan itu sendiri, dan terjadi pada saat kita justru berlepas
bebas dengan hasil yang kita bayangkan.

Padamu sayang, kenyataan itu serasa
bertingkat. Dibukakan pelahan, satu demi satu, semua yang pernah berlaku atasmu
dan membuat aku sering tidak mengerti. Setahap demi setahap aku diajarNya untuk
memahaminya. Tapi masih juga aku terlalu tolol untuk itu semua, hingga
kulakukan apa yang tak semestinya aku lakukan terburu-buru. Begitulah kamu menjauh
dariku ketika keraguanku mulai datang. Aku ingat ketika keyakinanku makin
tebal, makin dekat pula kamu denganku, dan membuka misterimu satu demi satu.
Beberapa teman sudah bilang, bahwa aku nekat. Ah tapi apalah arti itu semua?
Aku cuma merasa ada yang istimewa di antara kita, ada senyummu yang selalu aku
bayangkan merekah seperti senja merah itu. Then seize the day!

Kemarahan selalu bisa jadi sumber
energi tapi aku selalu terlambat menyadari bahwa itu juga bisa begitu mudah
menghancurkan semuanya. Tak ubahnya adalah pengaruh buruk yang menajamkan pisau
yang menggarit luka dan ketakutanmu. Sungguh aku sesalkan semuanya, ketika
akhirnya aku sampai disini. Terlempar ke jurang rindu yang merentang dari
kemarahanku dan kebencianmu tentang hal itu.

Sungguh, tiap saat setelah aku sadari
semuanya, aku kirimkan doa kecil yang kuselipkan tiap saat, sambil kukenang
semua yang indah yang bisa kukenang dari kehadiranmu. Aku mencoba menghubungkan
energi yang kuperoleh dari kehadiranmu untuk mengusir rasa gelisah dan marah
yang kupikirkan di lingkaranmu.

I run for the bus dear

while riding it I think of us dear

Teruntuk Kekasihku

My Litle Angel’s

Cinta Laki-Laki Biasa

August 7th, 2006 by johanarifin

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa

dia mau

menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari

yang

dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata

miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,

kakak-kakak,

tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan

surat

undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati

hari-hari

sidang yang baru saja berlalu.

Suasana sore di kampus sepi.

Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan

lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang

barangkali

beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.

Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari

sana

. Ia hanya

menarik

nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil

dan

spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian

di

kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara

mendadak gagap.

Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan

Rafli

untuk melamarnya.

Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat

karena

semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya

yang

sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak

tertua,

disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari

Papa dan

Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania

bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang

balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap

Nania!

"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli

memang

melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira

Rafli

berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum.

Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah

pertanda

baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu

berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh

selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya

pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli,

kan

?" Mama mengambil inisiatif

bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama

siapa

saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya,

toh?"

Nania terkesima.

"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang

busana,

sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca

puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.

Bakatmu

yang lain pun luar biasa.

Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,

kakak-kakak, dan terakhir Mama.

Takjub dengan rentetan panjang uraian

mereka

atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di

kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan

sangat

tidak menyukai Rafli.

Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan

pendidikan

biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat

biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. "Tak ada

yang

bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup! Nania menjadi marah.

Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi

menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di

mana

tawakal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan

melihat

pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.

Barangkali

karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu

tak

punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar

biasa’.

Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun

Nania

menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.

Di

sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering

berbisik-bisik di

belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,

Nania

masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar

tampak di

mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar

hingga

Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau

cara

dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat

bahagia.

"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak

percaya.

"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan

sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.

Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan

Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng

kan

?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik

mereka

beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu

bahkan

tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.

Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika

lima

tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti.

Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan

satu

perempuan. Keduanya menggemaskan.

Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal

itu

tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu

memforsir diri.

"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu

khawatir

sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud

baik.

"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu

sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran

Nania

cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa,

dengan

pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang

amat

sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin

gemilang,

uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan

lucu,

dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada

di

puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan

bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan

dan

kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi

Nania

belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan

bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari

puncak.

Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun

waktu

itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania

menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu

dari

waktunya.

"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera

dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke

dalam

rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan

itu

merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam

hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya

waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi,

dan

menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta

orangtua

Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat

pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.

Rasa sakit

dan

melilit sudah dirasakan Nania per

lima

menit, lalu tiga menit. Tapi

pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."

"Belum ada perubahan, Bu."

"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian

menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."

Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang

memeriksa

memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.

Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak

bahagia

sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.

Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"

Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit

yang

sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin

payah.

Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"

Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua

kehidupan.

"Dokter?"

"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?

Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?

Bagaimana

jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang

karena

Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar

operasi.

Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah

sekat

ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan

dokter-dokter itu.

Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang

ombak. Berayun-ayun.

Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat

menangkap

teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang

bergerak,

sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir

lelaki

itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

"Pendarahan hebat."

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.

Ada

varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana

pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali.

Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua

mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.

Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di

pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas

cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari

kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan

juga

anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu

sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak

sampai

empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di

rumah

sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil.

Walau tak

banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan

Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah

sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak

perusahaan

tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi

Rafli

terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.

Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang

terbaring di ruang ICU.

Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak

famili

mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap

dan

bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan

kehadirannya.

"Nania, bangun, Cinta?"

Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi

dan

kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan

berfikir

untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit,

mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.

Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit

dan

membacanya dengan suara pelan.Memberikan tambahan di bagian ini dan

itu.

Sambil tak bosan-bosannya berbisik, "Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan.

Asalkan

Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi

cahaya

di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang

menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan

ibunya. Di

luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak

bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata,

gerak

bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya

yang

cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah

penat

Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan

mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan

airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

Lelaki

biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.

Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu

per

satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju

rumah

dan menggendong Nania ke teras, melihat senja

datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang

jatuh

cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.

Membersihkan

wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin

Nania

selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu.

Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah

selalu

meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan

paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar.

Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di

restoran,

nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.

Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu

melibatkan

Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di

sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli

yang

berkeringat mendorong kursi roda Nania ke

sana

kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik

keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di

jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas

hanya

memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua

berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"

"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

"Nania beruntung!"

"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya

memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan

Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin

frustrasi,

merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah.

Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang

di

luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan

selalu

begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah

mereka.

Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua,

anak-anak

yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang

lebih

dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.

Meski

kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut

takdir

dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya.

Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk

Nania.

============

Dikutip Dari   : Asma Nadya, Kumpulan cerpen.

Joe Comment : Cerita ini POLLL Banged ( pake D ), memberikan bekal
peladjaran yang bagus buatku…. aku ambil hikmahnya dari cerita ini,
insya Allah bisa diterapkan buat kehidupan masa yang akan datang untuk
selalu setia dan tiada henti menyayangi walau apapun yang terjadi
bersama isteri-ku kelak ( siapa ya? )

8 Kado Terindah

August 7th, 2006 by johanarifin

1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya
      adalah
kado yang tak ternilai harganya. Memang, kita
bisa juga hadir
      dihadapannya lewat surat, telepon,
foto atau faks. Namun dengan berada
      di
sampingnya, kamu dan dia dapat berbagi
perasaan, perhatian dan
      kasih sayang secara lebih
utuh dan intensif. Jadikan kehadiran kamu
      sebagai
pembawa kebahagiaan.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang
      mampu memberikan kado ini.
Sebab, kebanyakan orang lebih suka
      didengarkan,
ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan
perhatian
      pada segala ucapannya, secara tak
langsung kita juga telah menumbuhkan
      kesabaran
dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar
dengan baik,
      pastikan kamu dalam keadaan betul-
betul rileks dan bisa menangkap utuh
      apa yang
disampaikan. Tatap wajahnya, tidak
      perlu
menyela,mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan
ia
      menuntaskannya, ini memudahkan kamu
memberikan tanggapan yang tepat
      setelah itu.
Tidak harus berupa diskusi atau penilaian.
Sekedar
      ucapan terimakasihpun akan terdengar
manis baginya.

3.
      DIAM
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada
kekuatan. Diam bisa
      dipakai untuk menghukum,
mengusir, atau membingungkan orang. Tapi
      lebih
dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan
kecintaan kita pada
      seseorang karena
memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari
      kita
sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur,
mengkritik bahkan
      mengomel.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi
      hak
penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan
orang bersangkutan.
      Bisakah kita mengaku
mencintai seseorang jika kita
      selalu
mengekangnya ? Memberi kebebasan adalah
salah satu perwujudan
      cinta. Makna kebebasan
bukanlah "kau bebas berbuatsemaumu".
      Lebih
dalam dari itu, memberi kebebasan adalah
memberinya
      kepercayaan penuh untuk
bertanggungjawab atas segala hal yang
      ia
putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak
      bahagia, jika orang yang disayangi
tiba-tiba tampil lebih "guanteng"
      atau "cuantik" ?
Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah
kado
      yang indah. Selain keindahan penampilan
pribadi, kamu pun bisa
      menghadiahkan keindahan
suasana di rumah. Misalnya vas dan bunga
      segar
cantik di ruang keluarga atau meja makan yang
tertata
      indah.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa sadar, seringkali kita
      memberikan penilaian
negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan
      orang
yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang
benar dari
      dirinya dan kebenaran mutlak hanya
pada kita. Kali ini, coba hadiahkan
      tanggapan
positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah
ingat,
      berapa kali dalamsemingguterkahir kamu
mengucapkan "terima kasih" atas
      segala hal yang
dia lakukan untuk kamu. Ingat-ingat pula,
pernahkah
      kamu memujinya. Kedua hal itu,
ucapan terima kasih dan pujian, serta
      permintaan
maaf adalah kado indah yang sering terlupakan.

7.
      KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi
      bahan
pertengkaran. Apalagi sampai terjadi pertengkaran
yang hebat.
      Bila kamu memikirkan hal ini, berarti
kamu siap memberikan kado
      "kesediaan
mengalah". Kesediaan untuk mengalah juga
      dapat
melunturkan sakit hati dan mengajak kita
menyadari bahwa tidak
      ada manusia yang
sempurna di dunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya
      atau tidak, kekuatan senyuman amat luar
biasa. Senyuman, terlebih yang
      diberikan dengan
tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang
      beku,
pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah
suasana muram,
      bahkan obat penenang jiwa yang
resah. Senyuman jugamerupakan isyarat
      untuk
membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan
terakhir kali
      kamu menghadiahkan senyuman
manis pada orang yang kamu kasihi
      ?

Qana, Mukzizat yang terluka T_T

August 7th, 2006 by johanarifin

Qana, sebuah desa di Lebanon, selama
      perjalanan
sejarah, khususnya dalam pengembangan ajaran
Kristen,
      selalu menjadi perhatian dunia. Kini porak-
poranda oleh "tangan
      Israel"

Hidayatullah.com–Qana, adalah sebuah desa
      di
Lebanon, di sana, ajaran Isa Al Masih berawal. Di
tempat itu pula
      tragedi kemanusiaan penuh ratap
tangis terjadi akibat serangan militer
      Israel pekan
lalu.

Pada beberapa dasawarsa awal tahun
      Masehi,
Qana adalah sebuah desa kecil yang masuk
dalam kawasan
      Galilea. Kondisi geografis Galilea
yang beragam membuat mata
      pencarian
penduduknya pun bervariasi.

Orang yang tinggal di
      sekitar Danau Galilea
beradaptasi dengan beraktivitas sebagai
      nelayan.
Mereka adalah penduduk yang tinggal di Magadan,
Tiberias,
      Kapernaum, dan beberapa daerah lainnya.

Sedangkan penduduk di
      wilayah yang jauh dari
danau Galilea mengandalkan pertanian
      dengan
anggur sebagai salah satu hasil buminya. Qana
adalah salah
      satu dari daerah-daerah tersebut.

Kehidupan di Qana tidak jauh
      berbeda dengan
kehidupan desa dengan segala tradisi dan
intimitas
      antar penduduknya. Yohanes, seorang
penulis dan juga sahabat Isa,
      menggambarkan hal
itu dalam kesaksiannya.

Sekitar tahun 30
      Masehi, masa awal penyebaran
ajaran Kristus, berlangsung acara
      pernikahan di
rumah salah satu keluarga di Qana. Isa yang
      juga
disebut Yesus oleh pemeluknya, diundang dalam
upacara itu
      bersama ibu dan sahabat-sahabatnya,
termasuk Yohanes.

Hal yang
      tidak terduga terjadi. Anggur, minuman
tradisi penyambut tamu, habis.
      Atas permintaan
Maria, ibunya, Isa memperlihatkan
      mukjizat
pertama.

"Di situ ada enam tempayan yang
      disediakan
untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi,
masing-masing
      isinya tiga buyung. Yesus berkata
kepada pelayan-pelayan itu: `Isilah
      tempayan-
tempayan itu penuh dengan air`," tulis Yohanes
dalam
      Injil.

Hati pemimpin pesta pernikahan bergetar setelah
mereka
      mencicipi air dalam tempayan telah
berubah menjadi anggur. Seketika
      sirna
kegelisahannya karena pesta berjalan lancar.
Suka cita
      memenuhi Qana.

Kini, lebih dari dua ribu tahun setelah peristiwa
      itu,
suasana yang sungguh berbeda terjadi di Qana.
Perubahan itu
      terjadi hanya dalam hitungan menit
setelah serangan udara Israel
      meluluhlantahkan
Qana, Minggu (30/7).

Sesaat setelah insiden
      terjadi, kantor berita
Prancis, AFP melaporkan sedikitnya 50
      orang
tewas. Sebagian besar adalah anak-anak dan 15
dari korban
      anak-anak tersebut adalah
penyandang cacat.

Jumlah korban luka
      dan tewas terus bertambah
mencapai ratusan orang hingga hari
      ke-dua
kejadian.

Agresi Israel yang diberi kode "Operasi
      Anggur
Kemarahan" itu juga telah memaksa sejumlah
warga Lebanon
      menjadi pengungsi ke daerah
sekitar. Sementara itu, ratusan orang tua
      meratapi
kematian anak mereka dan ratusan anak
mendadak menjadi
      yatim piatu.

Dunia terperangah menyaksikan tragedi di
kawasan
      yang berbatasan langsung dengan Israel
itu untuk ke dua kalinya,
      setelah sebelumnya
peristiwa serupa terjadi tahun 1996.
      Pemimpin
muslim dan PBB mengutuk ulah Israel tersebut.

Sekjen
      Liga Arab Amr Mussa mendesak dilakukan
penyelidikan atas pembunuhan
      besar-besaran di
desa Qana dan memproses kejahatan perang
lainnya
      yang dilakukan Israel di Lebanon.

Jordania juga mengutuk keras
      serangan itu dengan
menyebut aksi Isreal sebagai pelanggaran
      hukum
internasional. Kutukan itu disampaikan langsung
oleh Raja
      Jordania Abdullah dalam salah satu
peryataannya.

Desakan untuk
      penyelidikan disambut baik oleh
PBB melalui Sekjen PBB Kofi Annan dan
      wakilnya
dalam pernyataan mereka seperti dikutip AFP.

"Saya
      mengutuk keras pembunuhan puluhan
warga sipil hari ini akibat tembakan
      Israel pada
bangunan rumah warga di desa Qana. Peristiwa
tragis ini
      menunjukkan pentingnya semua pihak
mengindahkan kerapnya permintaan PBB
      agar
permusuhan segera dihentikan," kata Wakil
Sekjen PBB Geir
      Pederson.

Selain itu, masyarakat Lebanon boleh sedikit
bernafas
      lega setelah Dewan Keamanan PBB
memperpanjang keberadaan 2.000
      prajurit
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL)
selama satu
      bulan.

Namun demikian kepastian masih sulit untuk
didapat,
      terutama karena Israel masih memberikan
pembenaran atas
      aksinya.

Walau menyampaikan duka mendalam, Israel
tetap
      menyalahkan gerilyawan Hizbullah karena
memnyembunyikan persenjataan di
      perkampungan
dan menjadikan warga sipil sebagai tameng
      hidup.

Serangan Israel ke Lebanon, termasuk Qana,
adalah
      serangkaian agresi untuk menumpas
gerilyawan Hizbullah yang telah
      membunuh dan
menangkap beberapa tentara Israel.

Warga sipil tak
      luput dari serangan itu karena
Israel bersikeras pemukiman warga
      merupakan
tempat persembunyian gerilyawan.

Qana adalah wilayah
      dengan wujud yang bertolak
belakang dalam dua periode sejarah yang
      berbeda.
lebih dari dua ribu tahun lalu, anggur dijadikan Isa
untuk
      menumbuhkan suka cita. Kini, kata anggur
muncul dalam operasi militer
      yang mematikan,
Operasi Anggur Kemarahan.

Dulu Qana menjadi
      titik awal dari serangkaian
mukjizat cinta kasih Isa. Kini, daerah itu
      menjadi
tempat berlangsungnya tragedi berdarah yang
justru dilakukan
      oleh anak cucu Yahudi, etnis
yang diajarkan cinta kasih oleh Isa.
      [sumber
antara.co.id]

Mau tau gimana respon Israel terhadap reaksi negatif atas serangan barbar yang dilakukanya?

August 7th, 2006 by johanarifin

Cara Israel Memenangkan Perang Opini
Kamis, 03 Agustus
      2006 - 10:53:22 WIB
Selain melakukan tuduhan anti semit kepada
orang
      yang dianggap membenci Yahudi, penganut
Zionis juga melakukan perang
      opini guna
mendukung langkah
      Israel

Hidayatullah.com–Meski kebengisan Israel
      di
Palestina dan Libanon hari-hari ini mendapat
hujatan masyarakat
      internasional, bukan berarti
pendukung Yahudi diam diri. Mereka
      justru
memanfatkan media massa, termasuk internet
guna membuat opini
      publik. Ujungnya, dukungan
terhadap langkah Israel.

Kementerian
      Luar Negeri Israel baru-baru ini
melakukan cara dengan mengajak
      warganya
untuk mengalahkan opini negatif yang kini sedang
menyerang
      negerinya.

Caranya antara lain mengajak warga Yahudi
      dan
pendukung Israel di seluruh dunia untuk
aktif bergerilya di
      dunia cyber dan mematahkan
opini siapa saja yang memojokkan
      Israel.

Opini seperti ini juga terlihat dari cara
      mereka
memanfaatkan surat-surat pembaca di media
cetak seperti
      –Time, Newsweek atau Wall Street
Journal –koran prestisius yang
      dikenal sangat pro
Yahudi dan Israel.

Baru-baru ini, Israel
      juga tengah meluncurkan
software yang bisa idownload dan diinstal
      gratis
bernama "Megaphone" melalui situs
      makeURL(”www.giyus.org. Giyus akronim dari Give”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”);www.giyus.org. Giyus akronim dari Give
      
Israel Your United Support maksudnya mobilisasi
mendukung
      Israel.

Software ini konon bisa melacak rtikel dan survei
di
      dunia maya yang kritis terhadap
kebrutalan tentara Israel. Ribuan
      orang, misalnya,
isa ikut survei di sebuah situs dan
      memberikan
awaban yang pro kebijakan Israel. Atau ramai-
ramai
      embantai opini di situs media liberal yang
kritis erhadap kebijakan
      politik Israel, terutama di
Libanon
dan Gaza sekarang. [Joe,
      berbagai sumber]

Mahalnya Karir Seorang Wanita

August 7th, 2006 by johanarifin

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan
direktur
      sebuah
Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk
orang yang
      menganggap saya
orang yang berhasil dalam karir namun sungguh
jika
      seandainya saya boleh

memilih maka saya akan berkata kalau lebih
      baik
saya tidak seperti
sekarang dan menganggap apa yang saya
      raih
sungguh sia-sia

Semuanya berawal ketika putri saya
      satu-satunya
yang berusia 19 tahun
baru saja meninggal karena
      overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya
hancur berantakan karenanya,
      suaminya saat ini
masih terbaring di rumah
sakit karena terkena
      stroke dan mengalami
kelumpuhan karena memikirkan
musibah
      ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami
depresi
      berat dan
Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah
klinik
      kejiwaan, dia juga
merasa sangat terpukul dengan kepergian
      adiknya.
Sungguh apa lagi yang bisa
saya harapkan.

Kepergian
      Maya dikarenakan dia begitu guncang
dengan kepergian Bik
      Inah
pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam
pemakaian Narkoba.
      Mungkin
terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa
membawa
      dampak Begitu
hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik
Inah
      sudah seperti
keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami
sejak
      20 tahun yang lalu dan
ketika Doni berumur 2 tahun. Bahkan bagi
      Maya
dan Doni , bik Inah sudah
seperti ibu kandungnya
      sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang
saya
      baca setelah dia
meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya
      bik
Inah, berlembar-lembar
buku hariannya berisi hal ini. Dan ketika
      saya sakit
saya pernah sakit

karena kelelahan dan diopname di
      rumah sakit
selama 3 minggu ) Maya
hanya menulis singkat sebuah
      kalimat di buku
hariannya "Hari ini Mama
sakit di Rumah sakit" ,
      hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin
      terpukul.
Tapi saya akui ini
semua karena kesalahan saya. Begitu
      sedikitnya
waktu saya untuk Doni,
Maya dan Suami saya. Waktu saya
      habis di kantor,
otak saya lebih banyak
berpikir tentang keadaan
      perusahaan dari pada
keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan
      pulang di rumah 12 jam
kemudian bahkan mungkin
lebih. Ketika sudah
      sampai rumah rasanya sudah
begitu capai untuk
memikirkan urusan
      mereka. Memang setiap hari
libur kami gunakan untuk acara
keluarga,
      namun sepertinya itu hanya seremonial
dan rutinitas saja,
ketika
      hari Senin tiba saya dan suami sudah
seperti "robot" yang
terprogram
      untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah
      berkali-kali
mengingatkan saya untuk berhenti
bekerja sejak Doni
      masuk SMA namun selalu saya
tolak, saya anggap ibu
terlalu kuno cara
      berpikirnya. Memang Ibu saya
memutuskan berhenti
bekerja dan memilih
      membesarkan kami 6 orang
anaknya. Padahal sebagai
seorang sarjana
      ekonomi karir ibu waktu itu
katanya sangat baik. Dan ayahpun
ketika
      itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan
penghasilan.

Meski
      jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan
berhenti bekerja dan
mau
      mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja
perasaan
      bagaimana
kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti
bekerja, dan
      lalu apa gunanya
saya sekolah tinggi-tinggi ?. Meski
      sebenarnya
suami saya juga seorang
yang cukup mapan dalam karirnya
      dan
penghasilan. Dan biasanya setelah
ada nasehat ibu saya menjadi
      lebih perhatian pada
Doni dan Maya namun
tidak lebih dari dua minggu
      semuanya kembali
seperti asal urusan kantor
dan karir fokus
      saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa
membagi waktu
      untuk
mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa
dan ungkapan
      "kualitas
pertemuan dengan anak lebih penting dari
kuantitas "
      selalu menjadi patokan
saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan
      diluar
kendali saya dan
berjalan begitu cepat sebelum saya
      sempat
tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis
      menjadi
pemakai Narkoba. Dan
saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah
      sindiran dan
protes Maya saat ini
selalu terngiang di telinga. Waktu
      itu bik Inah
pernah memohon untuk
berhenti bekerja dan memutuskan
      kembali ke desa
untuk membesarkan Bagas,
putera satu-satunya,
      setelah dia ditinggal mati
suaminya . Namun karena
Maya dan Doni
      keberatan maka akhirnya kami
putuskan agar Bagas dibawa
tinggal
      bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini
      sangat
dibanggakan Maya. Namun
sindiran Maya tidak begitu saya
      perhatikan.
Akhirnya semua terjadi setelah
tiba-tiba jatuh sakit
      kurang lebih dua minggu, bik
Inah meninggal dunia
di Rumah Sakit.
      Dari buku harian Maya saya juga
baru tahu kenapa Doni
malah pergi
      dari rumah ketika bik Inah di Rumah
Sakit. Memang Doni
pernah
      memohon pada ayahnya agar bik Inah
dibawa ke Singapore untuk
      berobat
setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah
sudah masuk
      stadium 4
kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga dia
begitu
      marah pada kami.
Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik
      Inah
buat mereka, sudah
seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat
      saya
yang seolah hanya
bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.
      Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya
sering
      saya amati
Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang
lalu
      kami sekeluarga ke
desa bik Inah. Atas desakan Maya kami
      sekeluarga
menghadiri acara
pengangkatan Bagas sebagai kepala
      sekolah
madrasah setelah dia selesai kuliah
dan belajar di
      pesantren. Dan Doni pun begitu
bersemangat untuk hadir
di acara itu
      padahal dia paling susah untuk diajak
ke acara serupa di
kantor saya
      atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu
tampak bik Inah,
Bagas, Doni
      dan Maya tersenyum bersama. Tak
pernah kami lihat Maya begitu
senang
      seperti saat itu dan seingat saya itulah
      foto
terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu
      terguncang
dan shock, kami
sempat erisaukannya dan membawanya
      ke
psikolog ternama di Jakarta. Namun
sebatas itu yang kami lakukan
      setelah itu saya
kembali berkutat dengan
urusan kantor. Dan di
      halaman buku harian Maya
penyesalan dan air
      mata
tercurah.

Maya menulis :
"Ya Allah kenapa bik Inah
      meninggalkan Maya,
terus siapa yang bangunin
Maya, siapa yang
      nyiapin sarapan Maya, siapa yang
nyambut Maya kalau
pulang sekolah,
      Siapa yang ngingetin Maya buat
sholat, siapa yang Maya
cerita kalau
      lagi kesel di sekolah, siapa yang
nemenin Maya kalo nggak
bias
      tidur……….Ya Allah , Maya kangen banget
sama bik Inah
      "

Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya
sebagai
      ibunya, bukan
bik Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca
      itu
semua,namun semuanya
sudah terlambat tidak mungkin bisa
      kembali,
seandainya semua bisa
berputar kebelakang saya rela
      berkorban apa saja
untuk itu. Kadang saya
merenung sepertinya ini
      hanya cerita sinetron di TV
da n saya pemeran
utamanya. Namun saya
      tersadar ini real dan
kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya
      menulis ini bukan berniat untuk
menggurui siapapun tapi
sekedar
      pengurang sesal saya semoga ada yang
bisa mengambil
      pelajaran
darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini
karena
      sungguh tiada
terbayang beratnya.Semoga siapapun yang
membaca
      tulisan ini bisa menentukan
"prioritas hidup dan tidak salah dalam
      memilihnya".
Biarkan saya
seorang yang mengalaminya.

Saat ini
      saya sedang mengikuti program
konseling/therapy dan Mencoba
aktif
      ikut dipengajian-pengajian untuk
menentramkan hati saya.
      Berkat
dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini
semua. Saya
      tidak ingin
tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan
      saya,
karena itu tidak
mungkin!. Dan bukan pula untuk memaksa
      anda
mempercayainya, tapi inilah
faktanya. Hanya semoga ada yang
      memetik
manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa
      umur
saya untuk suami dan
Doni.

Dan semoga Allah mengampuni
      saya yang telah
menyia-nyiakan amanahNya
pada saya. Dan disetiap
      berdoa saya selalu
memohon "YA Allah seandainya
Engkau akan
      menghukum Maya karena
kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya
Allah,
      biar saya yang menggantikan tempatnya
kelak, biarkan buah
      hatiku
tentram disisiMu". Semoga Allah mengabulkan
      doa
saya.

Kecanduan Cinta

August 7th, 2006 by johanarifin

Istilah kecanduan cinta mungkin bukan istilah yang umum
terdengar. Istilah yang sudah umum beredar seperti kecanduan minum, alkohol,
narkoba, rokok, kerja, dan lain sebagainya. Meski pun “barang” nya cinta, bukan
berarti aman-aman saja bagi pecandunya dan tidak membawa dampak apapun juga.
Justru, dampak dari kecanduan cinta ini sama buruknya untuk kesehatan jiwa
seseorang. Buktinya, sudah banyak kasus bunuh diri atau pembunuhan yang terjadi
akibat kecanduan cinta meski korban maupun pelaku sama-sama tidak
menyadarinya…Nah, artikel di bawah ini akan mengulas sekelumit hal-hal yang
berkaitan dengan kecanduan cinta.

 

Kecanduan Psikologis

Di dalam
masyarakat sudah banyak sekali kesalahan dalam mempersepsi atau mengartikan
cinta sejati dengan cinta yang bersifat candu. Berbagai film, sinetron, atau
pun lagu-lagu turut andil dalam menyaru-kan kondisi kecanduan cinta dengan
cinta sejati. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam pengertian yang keliru
antara kecanduan cinta dengan cinta sejati. Contoh ekstrimnya, ada orang yang
bunuh diri karena ditinggal pergi kekasih – dan orang menilai bahwa cerita ini
mencerminkan kisah cinta sejati.
 

 

Tanda-tanda

Pada umumnya individu yang mengalami kecanduan cinta
menunjukkan tanda-tanda: 

Adanya pikiran
obsesif, misalnya terus-menerus curiga akan kesetiaan pasangan, terus- menerus
takut ditinggalkan pasangan sehingga selalu ikut ke mana pun perginya sang
kekasih/pasangan.

Selalu menuntut
perhatian dari waktu ke waktu, tanpa ada toleransi dan pengertian

Manipulatif,
berbuat sesuatu agar pasangan mengikuti kehendaknya/memenuhi kebutuhannya,
misalnya : mengancam akan memutuskan hubungan jika mementingkan hobi-nya.

Selalu bergantung
pada pasangan dalam segala hal, apapun juga, mulai dari minta pendapat,
mengambil keputusan sampai dengan memilih warna pakaian

Menuntut waktu,
perhatian, pengabdian dan pelayanan total sang kekasih/pasangan. Jadi, pasangan
tidak bisa menekuni hobi-nya, jalan-jalan dengan teman-teman kelompoknya, atau
bahkan memberikan sebagian waktunya untuk orang tua/keluarga.

Menggunakan sex
sebagai alat untuk mengendalikan pasangan

Menganggap sex
adalah cinta dan sarana untuk mengekspresikan cinta

Tidak bisa
memutuskan hubungan, meski merasa amat tertekan karena “berharap” pada
janji-janji surga pasangan
 .

Kehilangan salah
satu hal terpenting dalam hidup, misalnya pekerjaan atau /keluarga inti demi
mempertahankan hubungan.
Jadi, tidak ada istilah “puas” dalam setiap
hubungan yang terjalin antara orang yang kecanduan cinta dengan pasangannya;
ibaratnya seperti mengisi gelas bocor yang tidak pernah bisa penuh jika diisi,
karena begitu airnya dituang lantas langsung keluar lagi dan airnya tidak
pernah luber. Demikian juga orang kecanduan cinta, mereka tidak pernah mampu
membagikan cinta secara tulus pada orang lain karena selalu merasa kehausan
cinta. Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang sering berganti pasangan
karena merasa harapan mereka tidak dapat dipenuhi sang kekasih. Padahal, meski
puluhan kali mereka berganti pasangan, individu yang kecanduan cinta akan sulit
membangun hubungan yang stabil dan abadi. Sayangnya, banyak dari mereka yang
tidak sadar, bahwa sumber masalah justru ada pada diri sendiri – mereka lebih
sering menyalahkan mantan-mantan kekasihnya/pasangannya.

 

Penyebab

Sebenarnya, kecanduan cinta itu adalah kecanduan yang
bersifat psikologis karena tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis (seperti
kasih sayang, perhatian, kehangatan dan penerimaan seutuhnya) di masa kecil.
Menurut Erik Erikson - seorang pakar perkembangan psikososial, orang  yang
pada masa batita-nya tidak mengalami hubungan kelekatan emosional yang stabil,
positif dan hangat dengan lingkungannya (baca : orang tua dan keluarga), akan
sulit mempercayai orang lain – bahkan sulit mempercayai dirinya sendiri. Selain
itu, trauma psikologis yang pernah dialami seperti penyiksaan emosional dan
fisik pada usia dini, atau menyaksikan sikap dan tindakan salah satu orang tua
yang agresif dan kasar terhadap pasangan, dapat  menghambat proses
kematangan identitas kepribadian dan kestabilan emosinya. Pemandangan dan
pengalaman tersebut kelak berpotensi mempengaruhi pola interaksinya dengan
orang lain.

Keterbatasan respon/perhatian dari lingkungan pada waktu
itu, dipersepsi olehnya sebagai suatu bentuk penolakan; dan penolakan itu
(menurut pemahaman seorang anak) disebabkan kekurangan dirinya. Nah, pada
banyak orang, masalah ini rupanya tidak terselesaikan dan akibatnya, sepanjang
hidup ia berjuang untuk mengendalikan lingkungan atau orang-orang terdekat
supaya selalu memperhatikannya. Orang demikian berusaha membuat dirinya
diterima dan dimiliki oleh orang lain – meski harus “mengorbankan” diri. Orang
ini begitu cemas dan takut jika kehilangan orang yang selama ini memilikinya;
karena perasaan “dimiliki” ini identik dengan harga dirinya – dan sebaliknya ia
akan kehilangan harga diri jika kehilangan pemilik.

 

Dampak

Akibat kecanduan
cinta bisa dirasakan secara langsung oleh yang bersangkutan, karena orang itu
tidak dapat menikmati hubungan yang terjalin karena pikiran dan perasaannya
selalu diliputi ketakutan. Dan tidak jarang ketakutan tersebut makin tidak
rasional dan melahirkan tindakan yang tidak rasional pula, misalnya tidak
memperbolehkan pasangannya pergi kerja karena takut direbut orang.
 

 

Bagi Individu Bersangkutan

Akibat jangka
menengah dan jangka panjang adalah individu yang bersangkutan akan berada dalam
kondisi emosi yang labil dan menjadi terlalu sensitif.  Individu tersebut
mudah curiga pada teman, sahabat, kegiatan, pekerjaan, bahkan keluarga
pasangannya. Selain itu  ia menjadi mudah marah, cepat tersinggung dan
bagi sebagian orang bahkan ada yang bertindak agresif dan kasar demi
mengendalikan keinginan dan kehidupan pasangannya. Pasangannya tidak diijinkan
untuk punya agenda tersendiri; pokoknya harus mengikuti keinginannya dan 100%
memperhatikannya. Individu tersebut juga mudah merasa lemah, lelah dan lemas.
Pasalnya, seluruh energinya sudah dipergunakan untuk mengantisipasi ketakutan
yang tidak beralasan dan melakukan tindakan untuk menjaga pertahanannya. Nah,
kehidupan demikian membuat dirinya menjadi manusia tidak produktif. Sehari-hari
yang dipikirkan dan diusahkan hanyalah bagaimana supaya “miliknya terjaga”.

 

Bagi Pasangan

Banyak orang yang
tidak sadar kalau dirinya terlibat dalam pola hubungan yang addictive
sampai akhirnya ia merasa stress, tertekan namun tidak berani/takut/tidak
berdaya untuk memutuskan hubungan yang sudah berjalan beberapa waktu. Bagi
sebagian orang yang cukup sadar dan mempunyai kekuatan pribadi, ia akan berani
mengambil sikap tegas dalam menentukan arahnya sendiri. Namun, banyak pula
orang yang “memilih” untuk tetap dalam lingkaran demand-supply tersebut
karena ternyata dirinya sendiri juga mengalami masalah dan kebutuhan yang sama.
Jika demikian halnya, maka hubungan yang ada bukannya mengembangkan dan
mendewasakan kedua belah pihak, namun malah semakin memperkuat ketergantungan
cinta keduanya. Situasi ini lah yang sering dikaburkan dengan hubungan yang
romantis dan cinta buta.
 

 

Penanggulangan

Menurut para ahli
psikologi dan kesehatan mental, salah satu syarat utama untuk dapat menjalin
hubungan yang sehat dan sekaligus menjalani kehidupan yang produktif adalah
mempunyai kesehatan mental yang sehat dan identitas diri yang solid. Kondisi
positif demikian akan menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat sehingga orang
tersebut tidak membutuhkan dukungan dan pengakuan orang lain untuk memperkuat sense
of self
-nya. Jadi, untuk mengembalikan seseorang pada bentuk hubungan yang
sehat, langkah awal yang diperlukan adalah memperkuat pribadinya terlebih
dahulu. Dengan meningkatkan sumber kekuatan psikologis secara internal, akan
mengurangi ketergantungannya pada kekuatan eksternal. Orang itu harus merasa
aman dan percaya dengan dirinya sendiri untuk bisa merasa aman dalam setiap
jalinan hubungan dengan orang lain. Ada kalanya, orang-orang demikian
membutuhkan bantuan para profesional untuk membimbing dan mengarahkan mereka
membangun pribadi yang positif. (jr)
 

Panduan Menghapus Worm Brontok

August 4th, 2006 by johanarifin

  1. Bekerja di SafeMode
     
  2. Matikan System Restore (Windows Me/XP).
     
  3. Hapus virus yang terdaftar.
     
  4. Gunakan file ini tuk mengaktifkan kembali registry editor
  5. Hapus skrip yang ditambahkan virus pada registry .
     
  6. Hapus scheduled task.
     

Untuk detail dari setiap langkah tersebut, baca instruksi dibawah ini

1. Bekerja di SafeMode

Tekan F8 sebelum masuk ke windows, pilih safe mode

2. To disable System Restore (Windows Me/XP)

klik kanan pada logo my computer, dan pilih properties, kemudian hilangkan
  check mark pada enable system restore

  3. Hapus virus yang terdaftar.

    hapus file-file ini

  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\csrss.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\inetinfo.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\lsass.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\services.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\smss.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\winlogon.exe
     
  • %UserProfile%\Start Menu\Programs\Startup\Empty.pif
     
  • %UserProfile%\Templates\WowTumpeh.com
     
  • %Windir%\eksplorasi.pif
     
  • %Windir%\ShellNew\bronstab.exe
     
  • %System%\[user name]’s Setting.scr
     
  • %Windir%\inf\norBtok.exe
     
  • %UserProfile%\Local Settings\Application Data\Bron.tok-[X]-[Y]
       
        dimana [X],[Y] adalah dua nomor acak
       
        Catatan:
     
  • %System% sebuah variabel yang mengacu pada folder System. Umumnya adalah
        C:\Windows\System (Windows 95/98/Me), C:\Winnt\System32 (Windows NT/2000),
        atau C:\Windows\System32 (Windows XP).
     
  • %Windir% sebuah variabel yang mengacu pada folder instalasi Windows . umumnya
        C:\Windows (Windows 95/98/Me/XP) or C:\Winnt (Windows NT/2000).
     
  • %UserProfile% sebuah variabel yang mengacu pada folder folder profile current
        user’s . Umumnya C:\Documents and Settings\[CURRENT USER] (Windows NT/2000/XP).
  • Catat ukuran file dan tanggalnya, bilamana terdapat file exe lain dengan
        ukuran dan tanggal yang sama, hapuslah file itu.
  • Hapus template di user profile yang sama ukuran filenya

Cari file-file tersebut dan hapus dengan menekan Shift-Delete pada file tersebut
  dan tekan yes
  Penting: Anda harus melakukannya
  dalam safe mode
 
 
 
  4. Gunakan tool ini untuk mengaktifkan regedit
  gunakan file ini tuk mengaktifkan kembali registry editor anda, enabreg.bat,
  download, ekstrak dan jalankan file ini.

 
  5. Hapus value berikut dari registry

buka C:\Autoexec.bat dengan notepad dan hapus tulisan pause, bila ada.
 
  "pause"

lalu

  1. Klik Start > Run.
     
  2. Ketik regedit
     
  3. Klik OK.
     
  4. navigasi ke subkey ini:
       
        HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
       
       

     
  5. Pada kolom kanan hapus value:
       
        "Bron-Spizaetus" = "%Windir%\INF\norBtok.exe"
       

    "Bron-Spizaetus" = "%Windir%\ShellNew\bronstab.exe"
          
       

     

  6. navigasi ke subkey ini:
       
        HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run
       
       

     
  7. pada kolom kanan, hapus value:
       
        "Tok-Cirrhatus" = "%UserProfile%\Local Settings\Application Data\smss.exe"
     
  8. navigasi ke subkey ini:
       
        HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon
       

     
  9. pada kolom kanan, reset value pada value default:
       
        "Shell" = "Explorer.exe"
     
  10. navigasi ke subkey ini:
       
        HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer
       

     
  11. pada kolom kanan, reset value ini menjadi
       
        "NoFolderOptions" = "0"
       

     
  12. navigasi ke subkey ini:
       
        HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\explorer\advanced
       

     
  13. pada kolom kanan, reset value ini menjadi
       
        "Hidden" = "0"
        "ShowSuperHidden" = "1"
        "HideFileExt" = "0"
     
  14. keluar dari Registry Editor.
     

6. Hapus scheduled tasks yang ditambahkan oleh worm

Klik Start, dan pilih Control Panel. (Di Windows XP, pindah ke Classic View.)
    pada folder control panel, klik dua kali Scheduled Tasks.
    klik kanan pada ikon task dan pilih Properties dari menu popup
    setelah task muncul hapus task bilamana terdapat baris seperti ini
   
   
%Windir\Tasks\At1.job

Kemudian Restart komputer anda.

Selesai